Pilar-pilar keimanan yang akan membuatnya kokoh ada empat hal: Taqwa kepada Allah, rasa malu untuk bermaksiat, bersyukur atas segala nikmat Allah dan bersabar atas segala ujian (Kalam Ahli Hikmah)

PROGRAM Tiket berkah Akhirat Sahabat mari kita Bina Dhuafa, bagi Bapak/Ibu yang ingin menyumbangkan atau berdonasi baik Uang,baju bekas layak pakai atau barang- barang bekas lainnya seperti komputer, radio bekas, sepeda bekas, dan barang barang bekas silahkan salurkan ke Program Bina Dhuafa KLIK LINK INI UNTUK MENGETAHUI CARA MEMBERIKAN DONASI ANDA



MESIN PENCARI GOOGLE

Senin, 07 Januari 2013

Hikayat dari seorang Mualaf keturunan Tionghoa

Semoga bisa jadi renungan silahkan disimak penuturan dan kisahnya sebagai berikut :
Namaku Jimmy. Aku lahir di Surabaya keturunan Tionghoa. 
Terlahir dalam keadaan kafir sejak lahir hingga aku berusia 16 tahun. 
Saat beranjak 17 tahun aku mulai mencari jati diriku. 
Aku bagitu bimbang dengan agama yang ku anut. 
Tak mengerti apa yang sedang aku rasakan. 
Saat ku tanyakan kepada seorang pastur di Gereja dimana tempat aku memuja kepercayaanku. Beliau menjawab, cobalah untuk berpindah agama, usiaku adalah usia emas, usia dimana aku mulai mencari diriku sendiri. 
Ya, aku merasa berhak untuk itu. Setelah semua agama aku pelajari, tak satupun agama yang ajarannya membuatku hilang dari kebimbangan. dan saat aku berpindah antara agama satu ke agama yang lain, kuceritakan masalah kebimbanganku dalam menjalani kehidupan. Semua menjawab dengan jawaban yang tak jauh berbeda, menyuruhku untuk masuk Islam. Sedangkan kedua orang tuaku tak menyetujui hal itu. 
Bilapun aku mempelajari Islam, mereka tak akan menganggapku lagi sebagai keluarga, dan mencoretku dari garis ahli warisnya. 

Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku masih berumur 7 tahun. 
Dia masih belum tau apa-apa mengenai hal ini.
Mulai ku pelajari agama Islam secara diam-diam. 
Bahkan Ayah dan Ibuku pun tak tahu aku mulai mempelajarinya. 
Setiap hari kesekolah sendirian dalam perpustakaan. 
Banyak disitu buku-buku yang menjelek-jelekkan Islam. 
Dan aku mulai penasaran.
Hari demi hari ku lalui. Setiap buku-buku novel hingga pelajaran-pelajaran tentang setiap perilaku dalam Islam yang ku baca aku mulai sadar, kenapa semua pemimpin setiap agama menyarankanku masuk Islam. 
Ilmu dalam Islam begitu menyeluruh. Anehnya, mereka yan lebih tau, 
kenapa mereka masih menganut agamanya?
Surabaya, 25 September. Hari ulang tahunku. 
Hari dimana aku memulai umurku yang bertambah. 
Genap 18 tahun. Saat itu pukul 17.35 WIB. 
Aku berada di sebuah masjid klenteng bersama seorang guru, dan orang Islam menyebutnya Ustadz. Dihadapannya ku ceritakan pengalaman hidupku. 
Dia hanya tersenyum dengan kelembutan hatinya. 
Kudengar dan kulirik pula seorang yang kira-kira seumuran denganku, sedang membaca kitab sucinya, yakni Al-Qur’an. 
Begitu indah. Mungkin memang aku tak bisa mengartikan apa yang sedang dia baca, tapi aku merasa, bahwa didalam kata-katanya yang tersebut didalam Al-Qur’an tersimpan makna yang begitu mendalam.
Ku ucapkan “Asyhadu’alla ila ha illallah wa asy hadu’anna muhammadarrasulullah” di depan Ustadz Ali Mudzakkir. Beliau menyaksikan dua kalimat syahadatku. Kini aku memeluk agama Islam. Dan beliau mulai mengajariku membaca Al-Qur’an.
Dua bulan aku menyembunyikan jati diriku di hadapan orang tuaku. 
Aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya pada mereka.
Kulipat sajadahku sembari diriku sholat dhuhur.
“Jimmy...!!”, Ibuku membuka pintu kamarku perlahan, 
“waktunya mak... an...”, Ia terkejut melihatku melipat sejadah. 
“Apa yang telah kau lakukan?”
Aku bingung. Gagap. Panik. “i... ini....ini...”
“Kau sedang melakukan apa?”, ibuku mulai curiga. Ia melihat sekelilingku. 
Melihat ruangan tempat dimana aku melaksanakan sholat di setiap hariku.
“Tidak... aku tidak melakukan apa-apa...”, aku menjawab dengan panik seraya berpikir,’Ya Allah... Ampuni aku... Aku berbohong pada kedua orang tuaku...’
Di tariknya sajadah dari tanganku. “Pa-pa....!!!!”, 
teriak Ibuku memanggil Ayah.
Aku hanya bisa terdiam.
Ayah menuju kamarku. Ia melihat Ibu sedang menggenggam sajadahku. 
Dengan wajah seram, Ayah menggeledah seluruh isi kamarku.
Aku menepi ketakutan. Tubuhku gemetaran. 
Yang ada dalam fikiranku saat ini hanya berdzikir menyebut nama Allah. 
‘Ya Allah... berikan hambamu ini kekuatan dan perlindungan...’, kulihat raut wajah Ayah benar-benar menggambarkan raut wajah yang membara, beliau benar-benar marah.
“APA INI????”, di pegangnya sebuah buku yang berukuran kecil. 
Itu adalah Mus’haf Al-Qur’anku. Kemudian Beliau membuka isi dari buku itu. 
“SEJAK KAPAN KAMU BELAJAR KITAB INI????”.
Aku tak mampu berkata. Kini aku benar-benar bingung. 
Apa yang harus aku katakan. Yang ku rasakan saat ini adalah ketakutan.
Tanganku di genggam dengan erat. Aku di seret menuju gudang. 
Tanganku diikat dengan kencang pada sebuah tiang kayu yang berukuran lumaan besar. Semuanya terasa gelap. Yang ada hanya sinar kecil dari celah genting atap yan terbuat dari kaca. Aku menggigit gigiku sendiri. Menggeram. Menahan sakit. Ayahku memukuliku dengan cambuk tua yang telah lama disimpan di gudang. “ALLAH... ALLAH... ALLAH...”, Kuteriakkan dengan menahan sakit.
“SEJAK KAPAN KAMU MASUK ISLAM?”, Beliau mencambukku dengan isak tangis yang mendalam. Antara tega dan tidak memukuliku. “SEJAK KAPAN ANAKKU MASUK ISLAM??? JAWAB ANAKKU...!!!!”, Beliau menangis.
Sedangkan aku tak menjawab. Aku masih bingung. Haruskah ku beri tahu mereka? Tapi...
“ANAKKU...!!! JAWAB!!!! SEJAK KAPAN KAU MASUK ISLAM??? BUKANKAH KAU TAHU APA AKIBATNYA BILA MEMBANTAH AYAH???!!!”, Ayah masih mencambukku sambil bercucuran air mata.
Saat inilah perjuanganku mempertahankan kepercayaanku, yang selama ini membuatku merasakan betapa bahagianya aku dengan Islam. Serasa damai. Aku teringan akan cerita Ustadz Ali. Beliau menceritakan tentang perjuangan para mujahid terdahulu mempertahankana Islam. Bilal, salah satunya. Ia adalah seorang budak dari orang yang kafir. Akan tetapi kemudian memeluk Islam dan disiksa mati-matian oleh orang-orang kafir, dimana ia didadanya terapat batu yang sangat besar menindihnya di bawah terik matahari yang begitu menyengat tubuhnya. Ia memperjuangkan agamanya hingga rela mati, sebab ia tahu bahwa berperang di jalan Allah SWT adalah jalan menuju Surga. Aku percaya akan hal itu. Aku harus bisa memperjuangkan Islam. Biar bagaimanapun caranya. Dan aku yakin Allah selalu bersamaku dan melindungiku.
“ANAKKU...!!!! KENAPA KAU HANYA DIAM??? JAWAB PERTANYAAN AYAHMU!!!! SEJAK KAPAN KAMU MASUK ISLAM???”, 
Ia masih bercucuran air mata dan tidak ada hentinya mencambuk 
punggungku hingga memerah dan berdarah.
Dan mungkin saat inilah aku harus mengucapkan kejujuranku padanya.
“JAWAB ANAKKU!!!”, Beliau masih menagis. 
Cambuknya terus dan terus mendarat di tubuhku yang mulai melemah. 
Aku tak bisa lagi menahan sakit, perih dan panasnya cambukan ayahku.
“Iya Ayahku... aku akan menjawab pertanyaan Ayah...”
Ayah menghentikan cambukannya. “sejak kapan kamu masuk Islam Anakku...???”, 
Dia bertanya pelan seraya menangis melihatku penuh dengan luka di tubuhku karenanya.
Sambil ku usap air mataku dan menahan betapa perihnya luka-luka yang memar di tubuhku, “se... jak... hari... ulang... tahunku...”, aku menutup dan mengerutkan mataku menahan sakit, “yang... ke... de... la...pan...belas... ke...marin...”. dengan gagap ku ucapkan perlahan seraya menahan sakitku. Aku menangis tak tertahankan. Betapa besarnya dosaku membohongi kedua orang tuaku. Aku benar-benar menyesal, seharusnya sejak awal aku jujur kepada mereka.
Ayahku terkejut. Beliau mulai mencambukku kembali. Semakin keras. Berkali-kali mencambukku. “KENAPA KAU MASUK ISLAM ANAKKU... KEMBALILAH BERSAMA KELUARGAMU... KEMBALILAH PADA AGAMAMU YANG DULU...!!!”, Ayah terus menerus mencambukku meskipun dengan menangis.
‘Duk... duk... duk...’, tederdengar dari pintu sedang di pukul-pukul oleh adikku. Seraya menangis, ia mengucapkan,”Ayah.... udah yah... kasihan kakak... dia kesakitan Yah... kasihan kakak...”
Ayahku tak kuasa menahan tangisnya. Beliau menghentikan cambukannya. Dihempaskannya kelantai cambuk dari tangannya. Dilihatnya darah tak henti bercucuran dari tubuhku. Ia berjalan keluar, membukakan pintu untuk adikku. Di peluknya tubuh kecilnya dengan erat seraya membisikkan di telinga kecil Anji, ‘maafkan ayah terhadap kakakmu...’, beliau masih menagis.
Anji kecil pun tak henti menangis. Ayah melepas pelukannya. Anji berlari menuju tempatku diikat. Tak tega melihat tubuhku penuh dengan luka. Ia melepaskan ikatan tali yang mengikat di tanganku. Dia memelik tubuhku. Kubalas pelukannya. Dengan lemas aku mencoba untuk berdiri.
Ibu masuk ke ruangan. Ia menarik tangan Anji kecil keluar gudang. Anji mencoba untuk tidak melepas genggamannya untukku. Ia masih kecil. Menangis.
Tubuhku lebam. Darah tak henti bercucuran. Mataku mulai terasa perih. Semuanya menjadi gelap. Aku tak berdaya dengan semua yang ku rasakan kini. Tubuh memerah. Darah. Lebam. Dan aku mulai tak saarkan diri. 
Semuanya menjadi gelap.

* * *

Perlahan ku coba membuka mataku. 
Entah berapa lama aku tertidur tak sadarkan diri. Berapa jam sholat yang tak ku kerjakan. Tubuhku terasa berat ku gerakkan. “Ya Allah... beriku kekuatan...”, kugerakkan tubuhku. Aku mencoba berdiri. Aku berjalan menuju kamarku.
“Baju-bajumu sudah kami kemasi!”, Ayah memandangku seakan aku bukan lagi anaknya, “pergi dan jangan kembali lagi selama kamu masih belum mengubah pemikiranmu untuk masuk Islam! Anggap kami tak pernah ada dalam kehidupanmu...”.
Aku hanya terdiam. Aku berjalan pelan menuju kamarku.
Kulepas pakaianku yang penuh dengan robekan dan bekas darah yang mengering. Ku lihat sejenak mus’haf Al-Qur’anku. Ku pegang dan ku cium. ‘Allah lindungilah aku...’.
Ku ambil air wudhu dari kamar mandi di kamarku. Ku basuh semua lukaku. Masih terasa perih. Sakit. Saat ini waktunya shalat dhuhur. Pintu ku biarkan terbuka. Toh biarpun mereka melihatku, tak mengapa. Mereka sudah tau aku masuk Islam. Aku seorang Muallaf.
Setelah shalat, aku berpamitan kepada kedua orang tuaku. Tapi tak di hiraukannya. Aku keluar rumah. Berat. “Aku tak akan melupakan ayah dan ibu, aku akan selalu merindukan ayah an ibu... Semoga Allah selalu menyertai kalian...”.
Mereka hanya diam.
Kulangkahkan kakiku menuju pintu depan.
Anji berlari menghampiriku dari dalam rumah.”Kakak...!!!”, teriaknya.
“Anji??...”, kuhentikan langkahku dan ku peluk erat tubuh kecil adikku, “ada apa adikku?”.
“ini untuk kakak...”, ia memberiku mainan dinosaurusnya, “janan lupakan kami ya kak?! kakak sehat ya...!!!”. ia tersenyum.
“ya... kakak ngga akan pernah melupakan adik”, kupeluk erat kembali tubuhnya, “kakak sayang sama adik”.
Tergambar raut wajah yang menyimpan kesedihan. Tapi ia berusaha menutupinya dengan senyuman yang di paksakan.
“Adik baik-baik di rumah ya...!!”
“Ya kak...”

* * *

Kulajukan mobilku dengan tanpa tujuan.
Berhari-hari aku mencari tempat untuk tinggal. Dan saat itu pulalah aku mulai memperdalam ilmuku mengenai ajaran Islam. Berguru pada imam-imam di masjid-masjid besar. Hingga suatu saat aku berhenti di pondok pesantren Al-Islam. Aku mengikuti pengajaran hanya selama 2 tahun. Setelah itu aku di tugaskan mencari tempat yang tak pernah disentuh dengan ajaran Islam di daerah terpencil. Daerah pelosok.
Masih banyak pelajaran yang harus aku dapatkan. Terus aku mencari. Di tanah Indonesia banyak tempat-tempat yang mengajarkan agama Islam. Tpi banyak pula yang belum mendapatkan pelajaran tentang Islam.
Seminggu aku mencari pedesaan yang terpencil. Daerah Kabupaten Kediri. Kecamatan Sumber Agung.
Di tengah-tengah hutan yang terpencil. Ku lewati sebuah kuburan kecil yang memang di buat untuk masyarakat kampung setempat. Aku berjalan kaki, sebab mobilku tak bisa melewati jalan setapak yang berukuran kecil. Hanya motor dan sepeda yan bisa melaluinya. Aku berjalan berharap ada motor yang mau memberiku tumpangan menuju perkampungan tersebut.
Jam tangan menunjukkan waktu shalat Maghrib. Akhirnya aku sampai di perkampungan tersebut. Tapi sepi. Bahkan tak ada suara adzan yang di lantunkan sebagai panggilan untuk menjalankan shalat.
Ku ketuk pintu di salah satu rumah. “Assalamu’alaikum...”, hingga tiga kali ku ucapkan salam. Akhirnya dibukalah pintu rumah seseorang tersebut.
“Wa’alaikum salam...”, jawabnya, seorang lelaki yang kira-kira berumur 40 tahun ke atas. “Sopo yo? Nggoleki sopo?”
“Mboten... namung bade tangled, ten mriki musholla ten pundi nggeh?”, sambil tersenyum aku menanyakan.
“oh... yo, sampean mlaku lurus teros.... nek wes ketemu pertelon, menggo’o ngiri titik, yo wes nak kono engko onok musholla...”.
“nggeh... matur nuwun mbah...”, aku sekalian berpamitan.
“Yo...”
Aku mulai berjalan menuju ke tempat tersebut.
Ku lihat tulisan Masjid Ar-Rahman paa sebuah papan nama tua yang sepertinya telah lama rusak tak terawat. Tek jauh kulihat pula sebuah taman dengan alang-alang yang tinggi. Di sana kumelihat sebuah bangunan yang berukuran lumayan besar. Itulah masjidnya. Penuh dengan tumbuhan rambat. Bangunan tua. Benalu-benalu pada setiap diningnya. Lumut di setiap sudut-sudut dinding. Bangunan ini benar-benar tak terawat. Penuh dengan tanaman rambat yang tak beraturan.
Ku bersihkan sedikit wilayah yang aku pakai untuk sholat.
Masjid ini benar-benar menyedihkan. Tak berpenghuni. Entah apa yang sedang terjadi di masjid ini. Benar-benar tak terawat. Kulangsungkan sholat maghribku dan ku sambung dengan isya’. Setelah itu, aku menuju rumah kepala desa. Kutanyakan mengapa masjid di sini tak terawat lagi. Tapi Ia bilang, semenjak wafatnya Ustadz Abu, sang ulama yang membangun masjid itu di kampung ini, masyarakat tidak mau melaksanakan ibadah lagi.
“Kenapa begitu pak?”, tanyaku penasaran.
“Ya... karena setelah wafatnya beliau, tak ada lagi yang mau mengajarkan agama lagi di kampung ini”, Pak Sardi menjelaskan, “sebab itulah masyarakat mulai malas melaksanakan ibadah, tidak ada lagi yang mau jadi imam dan guru ngaji di masjid itu”.
“Tapi, kenapa mereka tidak merawat masjid itu?”, aku semakin penasaran.
“Itulah masalahnya nak, disini mulai tidak mau merawat masjid itu karena percuma tidak ada ang mau lagi menjadi imam di masjid itu”.
“Mmmm... Kalau boleh tau, saat bapak dan masyarakat yang lain mencari Ustadz atau imam, apa alasannya kenapa mereka tidak mau menjadi Ustadz dan imam di sini?”
“Kebanyakan alasannya itu, karena disini adalah tempat terpencil. Jauh dari fasilitas apapun...”, wajahnya begitu resah melihat keadaan masyarakatnya yang semakin jauh dari Agama.
Aku terdiam sejenak. Raut wajahnya juga membut aku ikut dalam keresahannya. Benar-benar memilukan. Pantas saja kampung ini begitu sepi.
“Mmmm... begini pak, apa boleh saya menempati masjid itu?”, ku coba untuk meminta izin dengan gemetar.
“Oh... boleh... Saya malah senang kalau ada yang menempati masjid itu”, Ia terdiam sejenak, “tapi masalahnya...”
“Kenapa pak?”.
“Tempatnya kan kotor, apa kamu sanggup membersihkannya?”.
“Ohhh.... Kalau itu bukan masalah pak”.
Pak Sardi tersenyum.
Tiiiiit...tiiiiit.... tiiiiiiit....
Suara HandPhoneku bunyi. “maaf pak, saya angkat telfon dulu...”, ku pasang wajah senangku, “ya halo?”
“Kakak?”, suara mungil yang tidak asing bagiku.
“Adek?”, aku terkejut.
“Iya kak, ini adek...”
“Beneran ini adek?”
“Iya kak...”
“Adek kok berani telfon kakak?”
“Ya, Ayah sama Ibu lagi keluar... Adek di rumah sendirian, kesepian kak.”
“Mmmm... Adek gimana kabar?”
“Baik kak...”
“Adek sebentar ya?”
Aku berpamitan kepada bapak kepala desa. “makasih ya pak, permisi, Assalamu’alaikum...”, aku tersenyum.
“Ya dek... sama-sama... Wa’alaikumsalam...”, beliau membalasku dengan senyuman pula.
Aku keluar dari rumahnya sambil mengankat telfonku.
Ku ceritakan semua pengalamanku selama aku keluar dari rumah. Semuanya. Yang kufikirkan saat aku keluar dari rumah hanyalah keselamatan keluarga, yakni, Ayah, Ibu, dan Adikku. Aku takut jika mereka tidak di selamatkan oleh pertolongan Allah. Sebab mata mereka tertutup akan keyakinan yang bohong. Kenyataan yang begitu pahit. Hanya kedustaan yang dan kebohongan yang terlukis di setiap kehidupan. Memilukan. Aku benar-benar takut akan neraka yang menjadi tempat kembali. Memang sih, semua agama menyatakan bahwa dengan keyakinan mereka, mereka akan selamat dari siksa neraka. Tapi tidak di jelaskan kesalahan apa saja yang dapat menjerumuskan mereka dalam neraka. Islam tidak. Islam menjelaskan keseluruhan dalam menjalankan kehidupan di dunia. Pemikirannya bukan hanya mengenai dunia, tapi hingga akhirat pun di jelaskan dalam kitab sucinya pun diceritakan semuanya. Bukan bohongan. Kitab yang mulai dari zaman nabi Muhammad saw. hingga kini tak pernah berubah, sebab kitab Al-Qur’an ini memang benar-benar diturunkan oleh Allah SWT kepada umatnya. Sedangkan kitab yang pernah ku pelajari sebelum aku masuk Islam, hanya buatan manusia. Setiap tahunnya direvisi atau untuk di daur ulang dan di perbarui. Kuceritakan semuanya kepada adikku. Dan tak lupa ku beri alamat dimana aku tinggal saat ini.
“Mmmm... O iya, kak aku punya Hpe sekarang, jadi kalau mau tanya kabar ayah sama ibu, telfon langsung saja ke nomorku...”
“O ya? Berapa nomornya?”

* * *

Ku bersihkan seluruh isi masjid, perlahan, hingga dua hari ku bersihkan seluruhnya. Ternyata ada beberapa orang masyarakat di kampung tidak secuek yang pernah ku fikirkan. Mereka mau membantuku.
Waktu itu dhuhur. Kulantunkan adzan sekeras mungkin.
Masyarakat sebagian senang akan adanya pengurus kembali di Masjid, di sisi lain ada yang terkejut.
Meskipun begitu, ma’mum yang datang hanya lima orang. Mungkin mereka masih terbuasa an senang dengan kebiasaannya yang telah lama tidak menjalankan ibadah. Aku dan jema’ah yang lain mencoba untuk sabar.
Setelah kita leksanakan shalat, kita mengadakan tadarus Al-Qur’an.
Dua bulan berlalu, jema’ah hanya bertambah tiga orang. Kini hanya menjadi delapan. Setelah rapat sebentar, akhirnya terfikirkan dalam benak Udin, pemuda yang getol dalam belajar agama, “gimana kalau kita buat dari perkumpulan ini menjadi Remas?”.
“Maksud kamu apa Din?”, yanya Angga salah seorang pemuda dari tiga pemuda.
“Ya kita buat Remas, Remaja Masjid...”
“Wah boleh itu... “, sahut pak Sardi sang kepala desa.
Akhirnya dari delapan orang kita membuat organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, yakni, Remas atau remaja masjid. Kita berencana mengadakan pengajian akbar, untuk kampung dan beradiah. Di jamin gratis.
Mungkin memang langkah awal, untuk menarik perhatian masyarakat. Kita gunakan hadiah untuk menarik perhatian mereka. Ku kabari Ponpes Al-Islam, tempat dimana aku belajar agama. Mereka bersedia membantu, asal untuk dakwah Islam, apa salahnya?
Alhamdulillah, sangat memuaskan meskipin tubuh benar-benar lelah. Begitu indah bila segalanya berjalan dengan lancar.
Beberapa bulan kemudian, jema’ah semakin bertambah. Dan para pemuda pun semakin banyak yang ikut serta dalam organisasi Remas Ar-Rahman. Berbagai macam kesenian Islam di ajarkan di sana. Dan mendapat pengajian intensif yang bertujuan betapa pentingnya ajaran Agama Islam dalam kehidupan mereka. Meskipun di tinggal sang Ustadz selamanya, mereka dilatih agar tidak berhenti dalam memperjuangkan Agamanya. Bahkan pembangunan jalan pintas dari jalan raya menuju pedesaan pun kini telah di perbaiki dan di perlebar, sehingga mobil bisa masuk. Semenjak berjalannya kembali Remas, banyak pembangunan-pembangunan yang di perbarui.
Satu bulan berlalu. Udin menemukan ruang rahasia di dalam kamarku di masjid. Dia menanyakan padaku kamar apa ini? Aku pun baru tau kalau ada kamar rahasia di kamarku. Seluruh anak Remas menyelidiki. Setelah membongkar-bongkar ruang rahasia tersebut, akhirnya kami menyimpulkan bahwa tempat itu adalah tempat dimana Ustadz Abu merenung dan ber do’a. Di situ ditemukan selembar surat yang tulisannya menggunakan huruf arab pego:
“engkau tunggu hingga pertengahan malam. Dimana saat kau melaksanakan tahajjut. Aku tak akan membiarkanmu menjaga mereka alam agama keyakinanmu. Dan aku tak mempercayaimu dan aku tidak mempercayai agama apapun. Semua agama hanyalah kepalsuan. Kebohongan. Semua agama adalah hal yang munafik dan dusta.”.
Isi surat yang singkat ini membuat kami semua bergetar.
Kutanyakan kepada Pak Sardi, bagaimana keadaan Ustadz Abu saat meninggal. Tapi mereka menjawab, penyebabnya tidak di ketahui. Saat meninggal, matanya memutih, tubuhnya kaku, tak dapat di gerakkan.
Kemudian Anton menemukan gelas plastik yang meleleh di dapur masjid.
Semuanya membuktikan bahwa Ustadz Abu meninggal karena dibunuh dengan menggunakan racun yang benar-benar mematikan hingga melelehkan gelas plastik.
Keresahan kembali pada diri-diri kita semua. Setelah sekian lama, tapi mengapa baru terungkap sekarang? Ini membuktikan pula bahwa ada orang yang tidak suka dengan penyebaran agama Islam dan agama yang lain.

* * *

Tok... tok... tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah Pak Sardi. Kami berkumpul untuk membicarakan masalah pembunuhan atas Ustadz Abu.
“Assalamu’alaikum...”, terdengar suara halus lembut dari luar.
“Wa’alaikumsalam...”, jawab bu sardi, “Sebentar...”
“Wa’alaikumsalam...”, kami ikut serta alam menjawab salam orang dari luar.
Di bukanya pintu oleh Bu Sardi, “Ehhh... anak manis sudah pulang...”
Seorang wanita dengan gaun yang benar-benar mencerminkan bahwa dia seorang Muslimah. Senyumannya terlantun dari bibirnya. Wajahnya begitu bersinar. Bercahaya. Subhanallah... Ciptaan Allah yang benar-benmar sempurna.
“Bapak... Nining pulang...”, teriak Bu Sardi kegirangan melihat putri semata wayangnya pulang dari Malang untuk menjalankan pendidikan kuliah.
Keluarga yang bahagia. Aku jadi merindukan ayah, ibu dan adikku. Begitu senangnya saat aku pulang disambut gembira oleh seluruh keluarga. Aku dan teman-teman yang lain hanya diam melihat kebahagiaan mereka.
“Wonten nopo niki buk? Kok rameh ngeten?”, tanya Nining sambil tersenyum senang.
“Iki... ono rapat arek-arek Remas”, Busardi begitu senang.
“Oalah... sak niki pun wonten Remase?”, Ia kebingungan, “terakhir kulo ten mriki kan dereng wonten seng purun ngajar ngaji ten mriki maleh?”.
“Iyo... iku biyen... tapi sajake enek Mas Jimmy...”, Bu Sardi menunjuk ke arahku, “... kabeh akhire gelem ngurusi masjid maneh...”
Ia tersenyum kepadaku.
Ku sambut pula senyumannya. Subhanallah... Sungguh agung kuasamu. Beriku kekuatan untuk menjaga martabatku ini. Dalam hati ku fikirkan.
Hingga akhirna kita melanjutkan membahas masalah kematian Ustadz Abu. Jadi benar ini memang adalah suatu siasat pembunuhan. Tapi siapa?

* * *

Beberapa hari kemudian.
“Mas... Mbak.. ini ada makanan... silahkan...”, Nining memberikan beberapa jenis makanan saat rapat berlangsung.
“Oo... iya... makasih ya... Jazakallahukhoiran...”
“Amin...”.
Ku lihat keluar ruang pertemuan, ada seorang yang tua, ia sedang memperhatikan setiap perilaku kita. Mulai pertama kali kita membuat Organisasi Remas, aku sering melihat orang itu selalu memperhatikan dengan wajah seram.
Saat ku tanakan kepada Jefry siapa orang itu sebenarnya, ia menjelaskan semua tentang orang itu. Dulu adalah seorang penjaga Masjid sekaligus pembantu setianya Ustadz Abu. Tapi entah kenapa saat pemakaman Ustadz Abu pun, ia sama sekali tak terlihat. Mungkin karena terlalu sedih hingga tak sanggup menyaksikan pemakaman. Aku mulai ingin mencari tau. Apa yang sedang terjadi sebenarnya.
Tak lama kemudian. Pak Sardi mengajak orang itu ikut dalam kepengurusan Remas. Ia sebagai pengawas.
Semakin mudah untuk aku menyelidiki orang itu. Bukannya su’udhon, tapi aku merasakansuatu yang mengganjal. Tapi bukan hanya aku saja yang punya prasangka seperti itu. Yang lainnya pun demikian. Sebab itulah Pak Sardi mengajak orang itu masuk dalam kepengawasan Remas. Namanya Pak Darsono. Kecurigaan ini bukan karena tak beralasan.
Akhirnya kita mulai rencana penyelidikan kepada Pak Darsono. Setiap hari selalu kami menyinggung masalah kematian Ustadz Abu. Dan Ia selalu hanya memilih untuk terdiam.

* * *

“Halo... kakak...!!!”, terdengar dari sebrang telpon.
“Ya.. adik.. ada apa?”, tanyaku tersenyum lebar.
“Adik kangen...”
“Ya sama... gimana keadaan Ayah sama Ibu?”
“Baik... “
“Kamu lagi dimana?”
“Lagi dijalan kak...”
“Pantesan suaranya ramai banget”.
“Iya... Kak...”
“Ya??”
“KAKAAA.........AAAAGGGGGGGGGG...........!!!!!!!!”
“Adek... Adek ngga apa-apa kan????”, 
Aku mulai panik.Terdengar dari sebrang telponku suara tabrakan. 
Apa yang sedang terjadi pada adikku? Ya Allah lindungilah dia... . 
Pikirku. Tiba-tiba terputus...
Entah apa yang sedang terjadi. Berhari-hari aku memikirkan. 
Aku terduduk sendiri didepan pintu masuk masjid.
“Assalamu’alaikum...”, Suara lembut menyapaku.
“Wa’alaikumsalam...”, Jawabku, ku toleh ke arah suara itu, “Astaghfirullah...”.
“...”, Ia terkejut pula, “Afwan Ya Akhi...?”
“La... ngga apa kok....”, aku gugup, “Jarak... hehehe...”.
“Ya.. Ana tau”, Ia duduk dua meter di sebelah kananku, “Afwan... 
Kenapa Antum sendirian disini?”
“Ana sedang memikirkan Adikku...”.
“Pasti ngga cuma itu saja kan?”
Aku hanya tersenyum.
“Afwan, bukannya ana ikut campur, tapi masalah dihadapi jangan hanya 
cuma dengan terdiam saja, tapi dengan aplikasi yang pasti. 
Dengan perbuatan yang tepat, perlahan, sabar”.
Aku terdiam.
“...”, Ia menatapku sejenak, “Afwan kalau ngganggu...”, 
Ia memalingkan wajah. Ia beranjak menjauh.
“Ukhti...”, panggilku, “Jazakallahukhoiron...”.
Ia kembali menatapku dengan tersenyum, “Amin...”.

* * *

Keesokan harinya.
Sebuah mobil menuju ke masjid Ar-Rahman. Berhenti. 
Kedua pintu depan terbuka. Di pintu sebelah kanan, seorang lelaki tua ang tubuhnya masih sehat, dan di pintu sebelah kiri, seorang wanita dengan mengenakan jilbab putih dan bersih, auratnya benar-benar tertutup. Wajah yang tidak asing. 
Sepertinya aku mengenal mereka. Mereka bertanya kepada Udin, menanyakan tentang aku. Aku keluar masjid untuk memastikan siapa yang datang ke masjid saat ini. 
Subhanallah...Mereka menangis melihatku.
Aku pun terkejut. Ayah dan Ibu. Ku hampiri mereka. 
Ku peluk tubuh mereka. Ku teriakkan takbirku kepada Allah SWT. 
Rasa syukur yang tak bisa dibalas hanya dengan kata-kata. 
Mereka menjadi Mu’allaf sepertiku. Mereka menceritakan semua mengenai Adikku dan cerita tragisnya. Aku menangis tak tertahankan. 
Air mata ini tak bisa terhenti keluar dari mataku. 
Begitu sakit, sedih mendengar semuanya. 
Semoga Allah selalu melindungi adikku yang kecil. 
Semoga selalu ada di sisiNya dan dalam perlindunganNya. 
Aku tak lagi bisa menahan betapa sedihnya kehilangan seorang adik yang benar-benar di sayangi. Ayah dan Ibuku meminta maaf kepadaku. 
Tapi sesungguhnya meminta maaf bukan padaku, 
seharusnya meminta maaf dan ampunan hanyalah kepada Allah SWT. 
Dan mereka sadar bahwa Islam adalah Agama yang pengasih dan penyayang.
Beberapa hari itu aku hanya bisa diam, tak bergairah, murung. 
Aku menyesal, kenapa saat adikku meninggal, aku tak datang dalam acara pemakamannya. Aku bingung, bimbang. Tapi aku selalu mencoba untuk mengikhlaskan kepergiannya. 
Hidup hanya sekali. Bila hanya dipakai untuk merenung saja, maka hidup tak akan berarti. 
Dan aku sadar, setiap orang pasti akan meninggal dan tidak tau kapan Allah akan mencabut nyawa kita. Sebab itulah kita harus berbekal ilmu Agama yang mendalam. 
Dan Islamlah satu-satunya Agama yang selalu mendapat keridhoan dari Allah SWT. 
Ayah dan Ibuku pun kini sadar. 
Mereka telah meyakini Islam sebagai Agama penyelamat bagi mereka. 
Ya, Agama dari Allah kepada Nabi Muhammad untuk Umat Manusia di seluruh dunia. 
Jalan yang terang. Allah menciptakan manusia bukan sebagai penghancur dunia, tapi sebagai penjaga dan di serukan untuk selalu menyembah kepadaNya an menjauhi setiap laranganNya. Allah selalu membuka lebar pintu taubat selama belum di hadirkanNya hari kiamat atau hari dimana seluruh jagat raya ini di hancurkan oleh Allah SWT. 
Sesungguhnya Allah Maha pengampun dan Maha penyayang. 
Kita sadari bahwa kita semua kelak akan kempbali kepada Allah. 
Bayi, Anak-anak, Remaja, Dewasa hingga Tua, kita takkan pernah tau kapan kita 
akan meninggal. Sebab itulah perlu persiapan diri sebagai uang saku 
dalam menjalankan setiap amal ibadah yang kita jalani atau malah kita tak pernah 
sekalipun beramal sholeh. 
Dan nerakalah tempat kembali yang tepat bagi mereka yang berdusta kepada Allah.

* * *

Setahun berlalu.
Pak Darsono dinyatakan tidak bersalah. 
Memang dialah yang memberikan minuman terakhir kepada Ustadz Abu, tapi bahkan dia tidak tau bahwa minuman itu telah di beri racun oleh salah seorang ta’mir masjid yang bernama Juki. Dia memang orang yang aneh di setiap tingkah lakunya dalam kesehariannya. 
Tapi Juki meninggal setelah seminggu kematian Ustadz Abu. 
Juki meninggal dalam tidurnya dengan tubuh yang tiba-tiba membusuk penuh dengan luka-luka bakar di tubuhnya. 
Entah kenapa ia tiba-tiba terkena penyakit yang aneh itu dan kemudian dapat membunuhnya. Saat di selidiki kembali di rumah Juki yang kotor dan tak berpenghuni juga jauh dari rumah-rumah tetangga, di temukan buku-buku tulis yang model tulisannya sama persis dengan tulisan pada surat ancaman yang di temukan beberapa bulan yang lalu di kamar rahasia di dalam masjid. Mungkin itu adalah adzab dari Allah. 
Dan itu pulalah yang menjadi pelajaran bagi kita karena ingkar kepada Allah.
Dan alasan mengapa saat pemakaman Ustadz Abu, Pak Darsono tidak hadir karena Dia memang benar-benar tidak sanggup melihat seorang yang di hormatinya meninggal dengan tidak wajar apa penyebabnya. Ustadz Abu adalah orang yang punya peranan penting di kampung setempat. 
Dan pembangunan Masjid dan perluasannya pun di galakkan dengan mendapatkan dana pembangunan dari Dinas Pembangunan Kediri dan sumbangan dari Ayahku.
Rasa syukur yang takkan pernah bisa terhenti untuk dan kepada Allah SWT. 
Dengan kasih sayangNya kepada umatnya, memberikan berjuta anugerah yang terindah dalam setiap kenikmatan yang tak dapat di kembalikan hanya dengan membalikkan tangan. Dan...TERIMAKASIH ALLAH SUBHANAHUWATA’ALA....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

TINGALKAN URL SITUS / BLOG ANDA DI AKHIR COMMENTAR TERIMAKASIH.